More About Me...

Lorem ipsum dolor sit amet, nisl elit viverra sollicitudin phasellus eros, vitae a mollis. Congue sociis amet, fermentum lacinia sed, orci auctor in vitae amet enim. Ridiculus nullam proin vehicula nulla euismod id. Ac est facilisis eget, ligula lacinia, vitae sed lorem nunc. Orci at nulla risus ullamcorper arcu. Nunc integer ornare massa diam sollicitudin.

Another Tit-Bit...

Lorem ipsum dolor sit amet, nisl elit viverra sollicitudin phasellus eros, vitae a mollis. Congue sociis amet, fermentum lacinia sed, orci auctor in vitae amet enim. Ridiculus nullam proin vehicula nulla euismod id. Ac est facilisis eget, ligula lacinia, vitae sed lorem nunc.

Sejarah logika


  1. Pengertian Logika
            Logika berasal dari kata Yunani “logos” yang berarti ucapan, kata, akal budi, dan ilmu. Kamu tentu sudah banyak kali mendengar kata logos. Misalnya, ketika mempelajari biologi, kamu tahu kalau biologi adalah ilmu (logos) tentang makhluk hidup (bios). Atau sosiologi yakni ilmu tentang masyarakat (socius), atau zoologi, yakni ilmu tentang binatang, atau psikologi, yakni ilmu tentang jiwa (psikhe) manusia. Bahkan ilmu tentang Tuhan (teologi). Demikianlah, logos dalam pengertian ilmu atau kajian memiliki hubungan yang erat dengan salah satu aspek kajian yang menjadi objek formal dari ilmu bersangkutan sekaligus membedakan ilmu tersebut dari ilmu-ilmu lainnya.
            Logika adalah ilmu dan pengetahuan, maksudnya dengan orang berlogika maka secara tidak langsung dia akan mendapatkan ilmu di saat logikanya bekerja dan logika juga dapat dikategorikan sebagai jalan menuju kebenaran, namun ada hal yang tak dapat diterka oleh logika itu sendiri yang dapat membuatnya tak sepaham dengan keyakinan kita yakni tentang permasalah keyakinan pada Tuhan terutama Islam yang dimana Tuhannya tak dapat dilihat namun diyakini keberadaannya.
            Berpikir sangat erat dengan aktivitas akal budi manusia “berpikir”. Berpikir itu sendiri adalah bagian dari kehidupan manusia. Sehari-hari ,  kita mampu berdialog, menulis surat,novel,puisi dll, mengkaji suatu uraian, mendengarkan penjelasan-penjelasan, dan mencoba menarik kesimpulan dari apa yang kita lihat dan kita dengar. Tetapi berpikir yang sering dirasa bersifat spontan itu bisa saja dianggap sebagai sesuatu yang mudah, gampang, dan biasa-biasa. Namun pada keyataannya  bahwa berpikir dengan teliti, tepat, dan teratur merupakan kegiatan yang cukup sulit di terima  Manakala kita meneliti dengan saksama dan sistematis berbagai penalaran, mungkin saja akan kita temui banyak  kekeliruan, dan penalaran yang tidak sepaham dengan pemikiran kita sendiri . Hal itu disebabkan antara lain karena dalam berpikir orang mudah tertangkap dalam perasaan-perasaannya, menganggap benar apa yang disukainya, terpengaruh prasangka, kebiasaan, dan pendapat umum. Dalam keadaan yang demikian, kita sulit mengajukan alasan yang tepat atau menunjukkan mengapa suatu pendapat tidak dapat diterima. Karena itu dalam kegiatan berpikir, kita dituntut untuk sungguh-sungguh melakukan pengamatan yang kuat dan cermat supaya sanggup melihat hubungan-hubungan, kejanggalan-kejanggalan; dan kesalahan-kesalahan yang terselubung.
  1. Sejarah Logika
A.    Sejarah Logika Pada Era Para Nabi

            Pohon sejarah logika tumbuh sejak awal penciptaan manusia. Kalau bukan karena kegilaan, manusia batal menghuni bumi. Logika iblis berseberangan dengan ‘logika’ Tuhan. Ketika ia diperintahkan ‘bersujud ‘ sebagai simbol penghormatan kepada Adam, iblis melawan ‘logika’ Tuhan. Kegilaan iblis membuatnya terkutuk dengan ancaman neraka, lalu perseteruan kebenaran-logika menjadi cerita abadi manusia hingga kiamat tiba.

            Logika gila iblis versus ‘logika waras’ Tuhan, seperti dua sisi keping koin yang selalu berseberangan posisi. Kegilaan logika Adam ada karena pengaruh bisikan iblis, “Makan buah khuldi membuatmu hidup abadi di surga.” Logika keabadian Adam berseberangan dengan logika Tuhan, Adam disebut gila. ‘Logika’ Tuhan harus dimenangkan! Adam dihukum, turun ke bumi untuk menebus kegilaan karena menyimpang dari ‘logika’ Tuhan.

            Cerita berlanjut berabad-abad, pertempuran dua sisi keping koin, keping logika, antara logika sehat dan logika gila. Akal sehat, otak, akal pikiran denga ransum pengetahuan sebagai alat bantu memilih sisi koin logika manusia tinggal memutuskan akan berada di sisi yang mana. Logika iblis dan kesesatan sudah disetting untuk eksis sebagai mayoritas, sedang logika Tuhan dan kebenaran sebagai minoritas.

            Kegilaan nabi-nabi menjadi koin logika pada tiap zaman, tiap generasi, tiap bangsa. Nuh gila ketika membuat perahu raksasa dimusim kemarau. Musa penyihir gila karena logikanya berseberangan dengan logika Fir’aun! Yesus-Isa Al Masih gila karena mengaku sebagai raja, logika mayoritas penguasa harus menyalibnya! Muhammad penyihir -penya’ir gila oleh logika jahiliyyah Quraisy. Lalu setelah logika baru menang, dunia berubah pikiran, ternyata Adam, Nuh, Musa,Yesus-Isa dan Muhammad adalah orang-orang pilihan untuk mengembalikan kewarasan peradaban logika manusia.

            Busur logika melemparkan anak panah menembus kuantum zaman. Logika gila dan gila logika terus bertarung nasib pada sekeping koin logika. Untuk satu zaman dan bangsa, demokrasi menjadi benar dan logis. Namun di lain zaman dan lain bangsa, demokrasi menjadi salah dan tidak logis. Monarki bagi demokrasi adalah logika gila. Maka monarki harus dihapuskan. Monarki di satu sisi koin, demokrasi di lain sisi. Dua sisi saling berseberangan, dan perang ideologi menjadi keniscayaan. Yang memenangi perang ideologi dialah yang berhak untuk mengklaim kebenaran.

            Penguasa berlogika gila karena tergila-gila logika kekuasaan-monarki, bahwa yang berkuasa itu absolut benar, alias logis. Maka yang tidak berkuasa harus salah dan sesat, alias tidak logis. Jika di suatu negara telah bersepakat memilih logika demokrasi, maka logika kekuasaan-monarki berarti menabrak logika negara. Penguasa monarki adaah penguasa berlogika gila, maka harus diwaraskan agar logis bagi negara. Thomas jefferson menafsir demokrasi sebagai ruh absolut negara, agama publik, atau suara Tuhan.

B.     Sejarah Logika Pada Era Yunani

            Secara historis kelahiran dan perkembangan pemikiran Yunani Kuno(sistem berpikir) tidak dapat dilepaskan dari keberadaan kelahiran dan perkembangan filsafat, dalam hal ini adalah sejarah filsafat. Dalam tradisi sejarah filsafat mengenal  3 (tiga) tradisi besar sejarah, yakni tradisi: Sejarah filsafat India (sekitar2000 SM – dewasa ini), sejarah filsafat Cina (sekitar 600 SM – dewasa ini), dan sejarah filsafat Barat (sekitar 600 SM – dewasa ini).
            Sejarah filsafat India dan sejarah filsafat Cina sebagaimana yang kita kenal sekarag ini.Titik-tolak dan orientasi sejarah filsafat baik yang diperlihatkan dalam tradisi Sejarah Filsafat India maupun Cina disatu pihak dan Sejarah Filsafat Barat dilain pihak, yakni semenjak periodesasi awal sudah memperlihatkan titik-tolak dan orientasi sejarah yang berbeda. Pada tradisi Sejarah Fisafat India dan Cina, lebih memperlihatkan perhatiannya yang besar pada masalah-masalah keagamaan, moral/etika dan cara-cara/kiat untuk mencapai keselamatan hidup manusia di dunia dan kelak keselamatan sesudah kematian.
            Sedangkan pada tradisi sejarah filsafat Barat semenjak periodesasi awalnya (Yunani Kuno/Klasik: 600SM–400 SM), para pemikir pada masa itu sudah mulai  mempermasalahkan dan mencari unsur induk (arché) yang dianggap sebagai asal mula segala sesuatu/semesta alam.
            Sebagaimana yang dikemukakan oleh Thales (sekitar 600 SM) bahwa “air” merupakan arché, sedangkan Anaximander (sekitar 610 -540 SM) berpendapat arché adalah sesuatu “yang tak terbatas”, Anaximenes (sekitar 585 –525 SM berpendapat “udara” yang merupakan unsur induk dari segala sesuatu. Nama penting lain pada periode ini adalah Herakleitos (± 500 SM) dan Parmenides (515 – 440 SM), Herakleitos mengemukakan bahwa segala sesuatu itu mengalir,(“panta rhei”) bahwa segala sesuatu itu berubah terus-menerus/perubahan sedangkan Parmenides menyatakan bahwa segala sesuatu itu justru sebagai sesuatu yang tetap (tidakberubah).
            Lain lagi Pythagoras (sekitar 500 SM) berpendapat bahwa segala sesuatu itu terdiri dari “bilangan-bilangan”: struktur dasar kenyataan itu tidak lain adalah “ritme”, dan Pythagoraslah orang pertama yang menyebut/memperkenalkan dirinya sebagai sorang “filsuf”, yakni seseorang yang selalu bersedia/mencinta untuk menggapai kebenaran melalui berpikir/bermenung secara kritis dan radikal (radix) secara terus-menerus.
            Yang hendak dikatakan disini adalah hal upaya mencari unsur induk segala sesuatu (arche), itulah momentum awal sejarah yang telah membongkar periode myte (mythos/mitologi) yang mengungkung pemikiran manusia pada masa itu kearah rasionalitas (logos) dengan suatu metode berpikir untuk mencari sebab awal dari segala sesuatu dengan menurut dari hubungan kausalitasnya (sebab-akibat).
            Jadi unsur penting berpikir ilmiah sudah mulai dipakai, yakni: rasio dan logika (konsekuensi). Meskipun tentu saja ini arché yang dikemukakan para filsuf tadi masih  bersifat spekulatif dalam arti masih belum dikembangkan lebih lanjut dengan melakukan pembuktian (verifikasi) melalui observasi maupun eksperimen (metode) dalam kenyataan (empiris), tetapi prosedur berpikir untuk menemukannya melalui suatu bentuk berpikir sebab-akibat secara rasional itulah yang patut dicatat sebagai suatu arah baru dalam sejarah pemikiran manusia. Hubungan sebab-akibat inilah yang dalam ilmu pengetahuan disebut sebagai hukum (ilmiah). Singkatnya, hukum ilmiah atau hubungan sebab-akibat merupakan obyek material utama dari ilmu pengetahuan. Demikian pula kelak dengan tradisi melakukan verifikasi melalui observasi dan eksperimen secara berulangkali dihasilkanlah teori ilmiah.


  1. Manfaat Logika
Secara singkat manfaat logika dapat dikategorikan sebagai berikut ;
a.       Logika dapat digunakan untuk menjelaskan atau menyatakan prinsip-prinsip abstrak yang dapat dipakai dalam berbagai ilmu pengetahuan
b.      Logika di zaman sekarang dapat digunakan sebagai alat untuk membedakan hal yang benar dari yang palsu.
c.       Logika dapat meningkatkan intelektual cara berpikir kita dalam menanggapi suatu permasalahan.
d.      Logika membuat kita terlepas dari hal-hal yang dapat membuat kita keliru entah itu emosi atau prasangka
e.       Logika juga dapat membantu kita untuk berpikir lurus tentang suatu hal atau biasa disebut dengan kritis.
  1. Macam-macam Logika
            Logika dapat dibedakan atas dua macam. Meskipun demikian keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kedua macam logika itu ialah logika kodratiah dan logika ilmiah. Logika kodratiah adalah logika yang bersumber dari akar pikiran manusia atau logika tersebut lahir dari semenjak seseorang tersebut lair dari muka bumi ini. Contohnya Hermansah dan Irfan bersama dalam satu ruangan yang sama, si Hermansah menonton dan si Irfan tidur, nah kita dapat membedakan bahwa kedua perlakuan tersebut tidak sama walaupun mereka berdua berada dalam satu ruangan yang sama. Sedangkan logika ilmiah adalah sebuah logika yang kompleks dimana logika itu dipergunakan dengan sangat teliti dan pada akhirnya akan mendatangkan keputusan yang final dari berbagai seleksi pemikiran yang ada. Contohnya logika ilmiah adalah kenapa sering kali kita membunuh nyamuk dengan tanpa alasan yang sangat jelas atau tak masuk akal bila kita memikirkannya secara mendalam, misalnya si Hermansah membunuh nyamuk dengan memakai raket listrik terus ditanya oleh si Irfan tentang alasannya megapa dia membunuh nyamuk itu, Hermansah pun menjawab dengan alasan karena nyamuk itu suaranya sangat ribut dan membuat tidur saya tergangggu. Beberapa saat kemudian pun Irfan membalas ucapan itu dengan berkata bukankah nyamuk diciptakan oleh ALLAH SWT. Dengan bentuk dan takdir demikian, jadi apabila kamu membunuhnya hanya dengan alasan dia diciptakan dengan mempunyai suara demikian brarti anda telah memungkiri takdir yang Tuhan telah berikan terhadapnya. Itu hanyalah sebagian kecil contoh dari berlogika ilmiah.
  1. Logika Formal dan Logika Material
            Ada perbedaan antara kebenaran bentuk dan kebenaran isi. Logika yang berbicara tentang kebenaran bentuk disebut logika bentuk/formal (formal logic) sedangkan logika yang membahas tentang kebenaran isi disebut logika material (material logic). Selanjutnya logika formal disebut juga logika minor dan logika material disebut logika mayor.
            Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran bentuk, bila konklusinya kita tarik secara logis dari premis atau titik pangkalnya dengan mengabaikan isi yang terkandung dalam argumentasi tersebut. Yang harus diperhatikan di situ ialah penyusunan pertanyaan-pertanyaan yang menjadi premis atau dasar penyimpulan. Kalau susunan premis tidak dapat dijadikan pangkal/dasar untuk menarik kesimpulan yang logis.
Misalnya:
Semua sapi adalah pemakan rumput
Semua kuda adalah pemakan rumput
Jadi, sapi adalah kuda
            Contoh diatas memperlihatkan susunan penalaran yang tidak tepat dengan demikian penalaran tersebut tidak memiliki kebenaran bentuk. Susunan penalaran yang tepat diketahui berdasarkan konklusinya yang ditarik secara logis dari premis atau titik pangkalnya.
Misalnya:
Semua ikan adalah makhluk hidup
Semua hiu adalah ikan
Jadi, semua hiu adalah makhluk hidup
            Susunan penalaran diatas adalah tepat sebab konklusinya diturunkan secara logis dari titik pangkalnya. Dengan demikian kalau penalaran yang tepat itu dikosongkan dari isinya dengan menghapus pengertian-pengertian di dalamnya dan menggantinya dengan tanda-tanda huruf terdapatlah pola penyusunan sebagai berikut:
Semua I adalah MH
Semua H adalah I
Jadi, semua H adalah MH
            Pola susunan penalaran itu disebut bentuk penalaran. Penalaran dengan bentuk yang tepat disebut penalaran yang tepat atau sahih (valid). Semua penalaran, apa pun isi atau maknanya, asal bentuknya tepat, dapat dipastikan bahwa penalaran itu sahih. Jadi tanda-tanda I, MH, dan H dapat diganti degan pengertian apa saja, asal susunan premis (yang dijadikan dasar penyimpulan) tepat dan konklusi sungguh-sungguh ditarik secara logis dari premis maka penalaran itu tepat/sahih.
            Kalau kita sesuaikan dengan kenyataan, jelaslah bahwa isi dari tiga pernyataan yang membentuk argumen di atas adalah salah. Namun argumen tersebut sahih dari segi bentuknya karena kesimpulan sungguh ditarik dari premis atau titik pangkal yang menjadi dasar penyimpulan tersebut. Bahwa isi dari kesimpulan tersebut salah tidaklah disebabkan karena proses penarikan kesimpulan yang tidak tepat, melainkan isi dari premis-premisnya sudah salah.
            Supaya kita dapat membedakan dengan baik kebenaran suatu argumen dari segi bentuk dan isi maka baiklah sekarang kita menyoroti argumen yang benar dari segi isi.
Sebuah argumen dikatakan mempunyai kebenaran isi apabila pernyataan-pernyataan yang membentuk argumen tersebut sesuai dengan kenyataan.
Misalnya:
Semua motor adalah benda mati
Supra x adalah benda mati
Jadi, supra x adalah motor
            Kalau kita sesuaikan dengan kenyataan, jelaslah bahwa isi dari tiga pertanyaan yang membentuk argumen di atas adalah benar (sesuai dengan kenyataan) dengan demikian argumen tersebut memiliki kebenaran isi. Namun, kalau kita teliti lebih lanjut, argumen tersebut sesungguhnya secara formal (menurut bentuknya) tidaklah sahih (valid). Karena konklusi yang ditarik tidak diturunkan dari pernyataan-pertanyaan yang menjadi titik pangkal pemikiran. Memang benar bahwa supra x adalah motor tetapi pernyataan (kesimpulan) itu tidak dapat ditarik dari fakta bahwa semua motor adalah benda mati dan bahwa supra x adalah benda mati.
  1. Induksi dan Deduksi
Ø  Induksi
Induksi adalah sebuah proses penarikan kesimpulan dari yang berdasarkan dari pengetahuan yang khusus atau tentang kasus-kasus individu yang tak umum. Pengamatan induksi/induktif sangat berkaitan erat dengan peninjauan lapangan atau terjun langsung ke medan permasalahannya atas kasus-kasus yang sejenis lalu disusunlah pernyataan yang sejenis pula lalu ditarik sebuah kesimpulan yang umum. Misalnya observasi terhadap 10 helai kertas yang dibakar berturut-turut dengan hasil yang sama yaitu menjadi abu, pengamatan itu secara formal dapat disusun sebagai suatu bentuk penalaran formal sebagai berikut ;
Kertas 1 dibakar dan menjadi abu
Kertas 2 dibakar dan menjadi abu
Kertas 3 dibakar dan menjadi abu
Kertas 1...
Kertas 10 dibakar dan menjadi abu
Jadi, semua kertas dibakar dan menjadi abu
Ø  Deduksi
Deduksi adalah sebuah penarikan kesimpulan bertitik tolak dari pernyataan yang bersifat umum, kita menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduksi/deduktif memakai pola berpikir yang disebut silogisme. Silogisme adalah argumentasi yang terdiri dari tiga penyataan. Dalam silogisme itu, dari dua pernyataan yang sudah diketahui (premis), kita turunkan pernyataan yang ketiga (kesimpulan).
                        Misalnya:
                        Semua manusia akan mati.
                        Hermansah adalah jin
                        Jadi, Hermansah akan mati



0 komentar:

Poskan Komentar



 

musik

pirate